keutamaan shalat berjamaah di masjid wajib oleh para laki-laki

 Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin
Seperti dijelaskan dalam satu aturan syar'i, melakukan hal yang harus unggul paling utama dari pada melakukan hal yang sunnah. Di dari dalilnya merupakan firman Allah Subhanahu wata'ala dalam hadits qudsi,

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

Kajian Utama
"Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku oleh suatu hal yang unggul Saya cintai dari pada perkara yang Saya wajibkan atasnya. " (HR. al-Bukhari, besutan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)
keutamaan shalat berjamaah di masjid
Al-Imam al-Bukhari rahimahullahdalam Shahih-nya menyampaikan, bab "Fadhli Shalatil Jamaah" ("Keutamaan Shalat Berjamaah"). Sebelumnya beliau mengatakan kisah seseorang tabi'in serta seseorang teman dekat, sebelumnya mengatakan ada banyak hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Merupakan al-Aswad bin Yazid an- Nakha'i rahimahullah (salah seseorang tabi'in senior) apa bila luput besutan berjamaah, beliau pergi menuju ke masjid yang lain. Jika Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu datang ke satu masjid yang sudah usai ditegakkan shalat kepadanya, beliau mengumandangkan azan serta iqamat sebelumnya shalat berjamaah.

Berdasarkan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, maksud al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan kisah al-Aswad serta Anas radhiyallahu 'anhuma merupakan yang menjadi isyarat yang menjelaskan keutamaan shalat berjamaah yang itu dalam ada banyak hadits, cuma berlaku untuk mereka yang berjamaah di masjid, bukanlah dirumah. Sebab, apa bila berjamaah tak dikhususkan di masjid, al-Aswad radhiyallahu 'anhu bakal menegakkan shalat berjamaah di tempatnya serta tak bakal pergi ke masjid lain kepada memperoleh jamaah.

Demikian juga Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau tak akan tiba ke masjid bani Rifa'ah (kepada melakukan shalat berjamaah, -pen.). Lalu al-Imam al-Bukhari rahimahullah mengatakan ada banyak hadits yang tunjukkan keutamaan shalat berjamaah. Salah satunya besutan Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma yang menjelaskan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

"Shalat berjamaah itu unggul paling utama dari pada shalat sendirian oleh 27 derajat. "
Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan oleh lafadz,

صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ

"Shalat seorang oleh berjamaah unggul banyak dari pada shalatnya sendirian 27 kali. "

Besutan Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ

"Shalat berjamaah itu unggul paling utama dari pada shalat sendirian oleh 25 derajat. "

Besutan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

صَلَاةُ الْجَمِيعِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وَأَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ خَطِيئَةً حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ، وَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتْ تَحْبِسُهُ وَتُصَلي يَعْنِي عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ؛ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ
"Shalat seorang oleh berjamaah itu dilipatgandakan pahalanya 25 kali atas shalat sendirian yang dia lakukan dirumah serta di pasaran. Hal semacam itu jika ia berwudhu oleh prima, sebelumnya ia keluar menuju ke masjid serta tak terdapat yang mendorongnya keluar (menuju ke masjid) terkecuali shalat. Tidaklah tiap-tiap langkahnya terkecuali bakal mengangkatnya satu derajat serta menghapuskan darinya satu kekeliruan. Jika ia shalat, malaikat bakal selalu mendoakannya sepanjang ia ada ditempat shalatnya, 'Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia. ' Salah seseorang di dari kalian masih sama dikira ada dalam shalat selamaia menunggu shalat. "
Beberapa ulama mengompromikan kisah yang mengatakan 25 derajat oleh kisah yang mengatakan 27 derajat yang menjadi di bawah ini :
• Penyebutan jumlah yang sedikit tak menghapus penyebutan jumlah yang banyak. Pendapat ini diyakini dengan mereka yang tak berasumsi mafhum adad (jumlah bilangan itu tak memiliki kandungan satu hukum).
• Mungkin saja, di permulaan saat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memberitakan bilangan 25, lalu ditambahkan keutamaan kepadanya, sebelumnya beliau mengemukakan oleh bilangan 27.
• Ketidaksamaan jumlah berdasar pada pembedanya yakni lafadz "darajah" serta "juz'an. " Oleh sekian, kata "derajat" unggul kecil dari pada "juz (sektor). "
• Ketidaksamaan jumlah berdasar pada dekat serta jauhnya masjid.
• Ketidaksamaan kondisi orang yang shalat, misal seseorang yang kondisinya unggul berilmu atau unggul khusyuk.
• Ketidaksamaan dari seorang yang menanti shalat selanjutnya serta yang tak menanti.
• Ketidaksamaan dari seorang yang merasakan keseluruhnya shalat serta yang cuma memperoleh beberapanya.
• Ketidaksamaan jumlah orang yang berjamaah.
• Kisah bilangan 27 spesial kepada shalat subuh serta isya, atau subuh serta ashar. Mengenai yang 25 kepada selainnya.
• Kisah 27 kepada shalat jahriyah, sementara itu yang 25 kepada shalat sirriyah.
Di bawah ini ini ada banyak keutamaan shalat berjamaah di masjid.
1. Mencukupi panggilan azan oleh kemauan kepada melakukan shalat berjamaah.
2. Bersegera kepada shalat di permulaan saat.
3. Jalan menuju ke masjid oleh tenang (tak terburu-buru).
4. Masuk ke masjid sembari berdoa.
5. Shalat tahiyyatul masjid saat masuk masjid. Semuanya dikerjakan oleh kemauan kepada lakukan shalat berjamaah.
6. Menanti jamaah (yang lain).
7. Doa malaikat serta permintaan ampun untuk dia.
8. Persaksian malaikat untuk dia.
9. Mencukupi panggilan iqamat.
10. Terbangun besutan masalah setan sebab setan lari saat iqamat dikumandangkan.
11. Berdiri menanti takbirnya imam.
12. Merasakan takbiratul ihram.
13. Membereskan shaf serta tutup celah (untuk setan).
1 4. Menjawab imam waktu mengatakan sami'allah.
15. Pada umumnya terbangun besutan kelupaan.
16. Bakal peroleh kekhusyukan serta selamat besutan kelalaian.
17. Memosisikan kondisi yang keren.
18. Memperoleh naungan malaikat.
19. Melatih kepada melakukan perbaikan bacaan al-Qur'an.
20. Memperlihatkan syiar Islam.
21. Menjadikan geram (merendahkan) setan oleh berjamaah diatas beribadah, sama-sama ta'awun diatas ketaatan, serta menumbuhkan rasa giat untuk orangorang yang malas.
22. Terbangun besutan karakter munafik.
23. Menjawab salam imam.
24. Mengambil faedah oleh berjamaah atas doa serta zikir dan kembalinya barokah orang yang mulia pada orang yang unggul rendah.
25. Terwujudnya persatuan serta persahabatan antartetangga serta terwujudnya pertemuan setiap saat shalat.
26. Diam serta dengarkan oleh saksama bacaan imam dan mengatakan "amiin" waktu imam membaca "amiin", supaya bertepatan oleh perkataan amin beberapa malaikat. An-Nawawi rahimahullah mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim, bab "Keutamaan Shalat Isya serta Subuh oleh Berjamaah", besutan 'Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu yang menjelaskan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ

"Barang siapa shalat isya oleh berjamaah, pahalanya misal shalat 1/2 malam. Siapa saja shalat isya serta subuh oleh berjamaah, pahalanya misal shalat semalam penuh. " (Syarh al-Bukhari, al-'Utsaimin, 3/62, Fathul Bari, 2/154—157)

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "keutamaan shalat berjamaah di masjid wajib oleh para laki-laki"

Post a Comment